Satu Jam Bersama Bang Mukhtar

Bang Mukhtar sosok jurnalis senior di Banda Aceh.



"Jak jep kupi Bil!” ajak Reza Fahlevi kepada saya yang duduk di ruang tengah Kantor AJI Banda Aceh. Bukan menjawab, saya malah bertanya balik, “dipat bang?”. “Budi Warkop,” jawab Reza kemudian.

Kami bergegas pergi menggunakan sepeda motor pada suatu petang pertengahan Februari 2018 membelah jalanan kota yang padat. Warung Kopi Budi tidak terpaut jauh dengan kantor organisasi wartawan itu. Kami tiba di sana usai berkendara sekitar lima menit.

Saya memarkirkan motor di bagian kiri depan warung kopi. Petugas parkir awalnya tampak tidak acuh. Melihat hal itu, lantas saya sengaja memarkir sembarang. Tak ayal, dia bergegas mendekat. “Sana lagi dek,” tutur dia sambil mengarahkan tangan kanannya.

Sebelum masuk ke warung, hal yang paling penting dilakukan adalah melepaskan helm yang kami pakai. Kemudian langkah kami berjalan menuju ke dalam warung. Belum masuk lebih dalam, suara riuh mulai terdengar. Pengunjung sangat ramai dan berisik dengan bahasannya masing-masing.

Kami melihat ke semua penjuru warung kopi untuk memastikan meja yang kosong. Namun, Reza menemukannya lebih dulu. “Inoe manteung Bil,” kata wartawan Harian Analisa itu. Saya mengiyakan dengan langsung duduk dan meletakkan kunci motor di atas meja.

Saya pesan kopi hitam. Reza memilih kopi sanger. “Sebenarnya Bang Mukhtar yang ajak minum kopi,” kata Reza di antara riuh suara pengunjung lain. Bang Mukhtar adalah sapaan untuk Mukhtaruddin Yacob, seorang wartawan senior SCTV di Aceh. Dia satu di antara wartawan Aceh hebat lain yang berpengalaman meliput perang saat konflik Aceh.

Dalam buku Rindu [tanpa] Perang, Bang Mukhtar menulis kisah dirinya merekam perang. Dan di sana, dia menulis bagaimana keluarganya di Aceh Utara saat itu menghadapi sebuah dilema. Dirinya seorang wartawan –profesi teraman untuk warga berkartu penduduk Aceh — dan sang adik seorang kombatan Gerakan Aceh Merdeka [GAM].

Awal saya melihat langsung Bang Mukhtar di lokasi gempa Pidie Jaya penghujung tahun 2016. Dari raut wajahnya, saya melihat beliau orangtua yang ramah senyum, tidak pelit ilmu, dan tidak menganggap ‘orang baru’ untuk siapa pun yang mengobrol dengannya. Sayangnya, di sana saya tidak sempat memperkenalkan diri dan mengobrol dengannya.

Setahun kemudian, saya pindah ke ibukota Banda Aceh untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Beruntungnya untuk anak malang yang datang dari kampung di kaki bukit, saya diterima dengan tangan terbuka oleh Bang Suparta Arz dan Reza Fahlevi di Kantor AJI Banda. Saya diberi kesempatan menginap sementara di Markas Angsa 23 itu.

Sehari berada di kantor sekaligus kampus Muharram Jurnalis College [MJC], Bang Mukhtar datang dan langsung menyapa saya. “Kiban Habil, pat lanjut kuliah?” tanya beliau. Saya malu-malu menjawab apa yang beliau tanyakan. Dalam hati saya sempat berkata, “Bang Mukhtar kok tahu nama saya.” Rasa bangga pasti, saat orang ‘besar’ dan kaya pengetahuan dan pengalaman menyapa anak kemarin sore yang masih ingusan.

Belakangan saya tau, bahwa Bang Mukhtar yang pernah menjabat ketua AJI Banda, sosok orangtua yang sering menyambangi kantor. Jarak kantor di Batoh dan tempatnya tinggal di Lamdom memang dekat, masih wilayah Kecamatan Lueng Bata. Beliau juga masih aktif gowes saban hari Ahad bersama Reza Fahlevi dan Husaini Ende. Dua nama terakhir adalah penghuni asli Markas Angsa 23.

Melihat mereka gowes, saya tertarik ingin mendayung sepeda melintasi jalanan aspal Kutaraja yang kian padat oleh kendaraan bermesin. Barangkali, jika Bang Mukhtar membaca ini, mungkin beliau akan mengajak saya gowes pada Ahad depannya, hehehe.

Beberapa detik berjalan dalam lamunan, segelas kopi hitam dan segelas kopi sanger telah dihidangkan. Saya duduk menghadap ke dalam warung dan Bang Reza menghadap saya. Melihat Bang Reza memandang lama ke arah luar, saya pun ikutan menengok ke luar. “Bang Mukhtar katroh,” tutur Bang Reza.

Di parkiran Bang Mukhtar mengatur posisi sepeda motornya. Petugas parkir tidak terlalu perduli. Dia melepaskan helm yang dikenakan. Kedatangan Bang Mukhtar ke Budi hampir sama dengan kedatangan kami: disambut riuh pengunjung.

“Kiban Habil?” sapa Bang Mukhtar. Saya langsung menjabat tangannya dan pindah tempat duduk ke kursi sebelah, maksudnya biar beliau duduk di samping saya. Nyatanya tidak. Bang Mukhtar memilih duduk di samping Bang Reza Vahlevi, berhadapan dengan saya.

Selain aktif sebagai wartawan, Bang Mukhtar juga mengajar di jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). Sesuai dengan profesinya, dia mengajar mata kuliah videografi di semester enam.

“Habil semester padum ka?” tanya Bang Mukhtar. “Nyoe ka semester dua bang,” jawab saya. “Manteung trep meureumpeuk dengan droenuh Bang,” kata saya lagi. Usai itu, obrolan mengalir panjang, mulai dari steemit, resepsi pernikahan Bang Reza Fahlevi, kompasiana, liputan Imlek, dan tentang kopi.

Sekitar dua jam bertiga di sebuah meja kopi, saya seperti kuliah empat sistem kredit semester [sks] di ruang kelas. Bedanya, di sana tidak terlalu formal dan tidak ada istilah mahasiswa dan dosen. Meskipun usia saya dengan Bang Mukhtar sangat terpaut jauh, namun saya tetap memanggilnya Bang. Sebuah sapaan saya untuk orang yang lebih tua.

Kalau dilihat dan dipikir memang tidak pantas. Barangkali saya mesti memanggilnya Abua Mukhtar atau Abu. Jika Bang Mukhtar juga membaca ini, mungkin beliau akan mengusulkan panggilan yang pantas dan layak untuk guru kaya pengalaman yang tidak mungkin wartawan lain alami.

Sembari menyeruput kopi pelan, saya menyimak baik setiap ilmu yang dikatakan Bang Mukhtar. “Teknik videografi itu ada beberapa macam cara pengambilan gambarnya,” tutur Bang Mukhtar. Beliau mengajarkan cara-cara dan istilah yang sangat asing di telinga saya. Hingga saya menulis ini, saya tidak ingat istilah itu.

Saya hanya ingat betul, bahwa saat pengambilan gambar, ada cara pengambilan secara keseluruhan, dekat, atau menggerakkannya dari samping. Dia mencontohkannya pada segelas kopi di meja kami.

“Misalkan kita merekam kopi ini, kita harus lebih dulu merekam kopinya, kemudian orang minum kopi. Bahkan bisa lebih detil ketika kita merekam gelas kopi berada di bagian bibir orang yang minumnya,” kata Bang Mukhtar.

Saya mengangguk pelan, seakan-akan paham betul. Saya memang lebih bisa nangkap dan masuk apa yang dikatakan oleh Bang Mukhtar jika dijelaskan lebih sederhana. Kalau istilah dan teorinya saya hanya bertambah bingung. Mungkin inilah mengapa jika ada orang yang menanya kepada saya bagaimana cara menulis, saya angkat tangan karena tidak mampu menjelaskannya.

Bang Mukhtar, –kelak jika sudah mengajar mata kuliah videografi di ruang kelas, saya akan memanggilnya Pak Dosen — memang tidak pelit ilmu dan suka berbagi pengalaman. Selain itu, beliau tidak pernah patah semangat dan tidak mau kalah sama wartawan muda ‘asuhannya’. Termasuk di media sosial.

Bang Mukhtar aktif di Youtube dengan nama akun Mukhtar TV. Bang Reza Fahlevi sering menyebut channel akunnya itu dengan nama MTV, mirip nama saluran tv musik. Belakangan ini, media sosial Steemit merambah netizen untuk aktif menulis dan dibayar dengan dolar melalui jumlah vote.

Seakan tak mau kalah, Bang Muktar juga membuat akun Steemit. Namanya Toshare @toshare . Konon, Bang Mukhtar termotivasi melalui tulisannya di Steemit, dia akan berbagi ilmu, pengalaman dan hal positif lain untuk pengguna steemit, salah satunya saya. Saya memang harus belajar banyak dari tulisannya.

Bang Mukhtar memang aktif menulis opini dan artikel lainnya di Kompasiana dan kolom opini sejumlah media massa. Bahkan tulisannya kerap menghiasi halaman koran Serambi Indonesia, surat kabar terbesar yang masih aktif di Aceh. Menurut saya, tidak semua wartawan televisi mampu menulis seperti Bang Mukhtar. Karena wartawan televisi memang tidak terlalu fokus pada menulis.

Hari semakin gelap. Pengunjung warung kopi Budi semakin ramai. Pengalaman Bang Mukhtar memang belum semuanya tersampaikan dalam waktu sebentar saja. Namun, nol koma sekian persen yang disampaikannya itu menambah 99 persen pengetahuan saya. Kami akhirnya berpamitan dan keluar dari warung kopi.

Sore hampir menjelang Maghrib itu, Bang Mukhtar kembali ke rumahnya. Saya dan Bang Reza Fahlevi pulang ke Kantor Aji Banda. Di parkiran, Bang Mukhtar tersenyum lepas. Satu yang paling saya heran dan sekaligus malu, karena setiap minum kopi dengan Bang Mukhtar, selalu beliau yang bayar. Kelak, saya akan mengajaknya ngopi dan saya bayar. Hehe. []
Menapaki karier jurnalistik sejak Desember 2015 di Acehkita.com. Sekarang bekerja sebagai jurnalis lepas, sambil merampungkan studi di FISIP Universitas Syiah Kuala.

Posting Komentar