Meugang: Harga Diri pada Setumpuk Daging

Sedari dulu Meugang sarat konteks sosial. Pun jadi ajang pembuktian harga diri.






Sabtu subuh, 4 Mei 2019, lapak dagang temporer sudah berdiri di Pasar Peunayong, Kota Banda Aceh, Aceh. Pada hari normal, area itu berfungsi sebagai pasar buah. Kini daging jadi jajaan utama.

Lapak-lapak itu berderet dan berimpitan. Ukurannya lebih kurang 2 x 1 meter. Beratapkan terpal plastik dengan balok-balok kayu sebagai penyangganya.

Paha sapi dan kerbau tergantung berjejer di depan lapak. Potongan-potongan yang lebih kecil terhampar di meja. Warnanya merah berpadu guratan putih pertanda lemak.

Di tiap sudut pasar, sepanjang tarikan napas hanya amis khas daging yang menempel. Meski demikian, warga tetap semangat berkunjung. Tawar menawar sudah riuh sedari pagi.

Para penjual pun sibuk. Mengajukan harga pas; Menghantamkan pisau besar ke tubuh ternak nan alot; Mengiris daging kecil-kecil; Hingga menimbang bobot daging.

Suasana serupa bisa pula dilihat di Jalan Teuku Iskandar, Beurawe, Banda Aceh. Jelang Ramadan, pasar daging dadakan memang bermunculan di seluruh Aceh.

Pasar temporer macam itu hadir beriring momen Meugang atau Makmeugang, tradisi membeli, memasak, dan menyantap daging bersama keluarga di Aceh.

Perayaan itu berlangsung dua hari sebelum Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha--dulu berlangsung sehari sebelum hari-hari akbar itu.

"Saya sehari-hari menjual baju di Pasar Aceh," kata Rahmad, sambil melayani pembeli di Pasar Peunayong. Demi lihat potensi ekonomi Meugang, pria berusia 40 itu sejenak alih profesi jadi penjual daging dadakan.

Saban Meugang, harga daging memang meroket. Kali ini, misal, harga daging mencapai Rp160-200 ribu per kilogram. Padahal, kala hari biasa, taksirannya hanya Rp120-130 ribu per kilogram.

Harga naik, tak bikin surut semangat warga guna berburu daging. Fadlan (46), misal, sudah tiba di pasar dadakan, Jalan Teuku Iskandar, sedari subuh.

"Hari ini saya beli daging. Karena Meugang, kurang pas kalau tidak ada daging di rumah," katanya. Padahal warga Ulee Kareng itu mengaku tak begitu suka makan daging.

Hal senada diutarakan Sari (34), yang berburu daging bersama ibunya. "Bagi Orang Aceh, jadi kewajiban untuk membeli dan memasak daging pada hari Meugang," katanya.

Tradisi Meugang sudah berlangsung sejak masa Kesultanan Aceh Darussalam. Persisnya pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Kala itu, "perayaan daging" itu diatur dalam beleid kerajaan atau Qanun Meukuta Alam Al Asyi.

"Daging dibagi-bagikan kepada fakir miskin, disabilitas, dan yatim piatu," ujar Tarmizi Abdul Hamid, pemerhati sejarah Aceh, ditemui Beritagar.id, Jumat (3/5/2019).

Menurut Tarmizi, Sultan Iskandar Muda merayakan Meugang sebagai bentuk syukur atas kemakmuran Aceh. Sultan bahkan lempar titah kepada para pegawainya untuk mendata warga miskin yang berhak dapat daging.

"Dulu, semasa Kesultanan Aceh, daging harganya paling mahal. Jadi makanan mewah, tidak semua orang bisa membelinya," ujar Tarmizi.

Pada 1873, Belanda memaklumatkan perang terhadap Aceh. Kesultanan jadi kewalahan mengelola Meugang. Namun tradisi itu tetap hidup bersama warga. Di kampung-kampung, Si Miskin tetap beroleh hibah daging dari Si Kaya.

Pada perkembangannya, kata Tarmizi, hari Meugang kerap diawali dengan gotong royong membersihkan kampung dan rumah. Agenda itu dipungkasi dengan makan bersama. Kadang makanan dibawa ke masjid untuk santap bersama warga.

Laiknya lebaran, ada pula kebiasaan pakai setelan terbaik atau baju baru saat Meugang. Sebagian keluarga kerap pula merayakannya dengan piknik dan santap bersama di pantai.

"Saat Meugang inilah ada momen makan besar atau Meuramien. Makan itu harus daging. Orang Aceh suka makan daging," ujarnya.

Pada momen itulah dapur-dapur warga mengepul demi menyajikan menu daging, macam kuah beulangong, sie reuboh (daging rebus), sie asam keu-eung (daging asam pedas), dan sate matang.

***

Jauh hari sebelum Meugang, Syahriel Nave berulang kali terima telepon dari keluarganya yang berdomisili di Kabupaten Bireuen.

Pria 26 tahun itu diingatkan untuk menunaikan "kewajiban" Meugang. Sebagaimana lazimnya lelaki yang baru menikah, Syahriel punya tugas tak tertulis untuk mengantar daging Meugang ke rumah mertua.

Namun, lantaran jauh dari rumah mertua, Syahriel mesti bersiasat. "Karena tinggal di Banda Aceh, saya hanya bisa kirim uang Meugang sebagai ganti daging," katanya, saat berbincang dengan Beritagar.id, Minggu (5/5/2019).

Berbeda dengan Syahriel, Teuku Aulia Fajri tetap menjalankan tradisi antar daging. Sejak menikah pada 2016, tiap momen Meugang, Teuku Aulia selalu kirim lima kilogram daging ke rumah mertuanya.

"Jumlah (daging) tergantung tradisi dalam keluarga. Kalau bagi saya, jangan terlalu banyak atau terlalu sedikit," katanya, Jumat (4/5/2019).

Beberapa hari sebelum perayaan, Teuku Aulia selalu memesan daging untuk mertuanya. Daging itu akan dikirim orang terdekatnya pada hari Meugang. "Sebagai ongkos, mertua saya akan kasih sebagian daging itu kepada pengantar," ujarnya.

Di rumah mertua, daging diolah jadi masakan khas Aceh. Setelahnya, masakan khas dikirim balik oleh keluarga perempuan ke rumah linto baro (pengantin baru).

Meski bukan kewajiban, tradisi antar daging Meugang bagi pengantin baru berpaut harga diri.

"Kadang jadi aib, bila tidak mengantar daging atau kasih uang. Karena Meugang jadi tolok ukur kesanggupan menafkahi istri, sekaligus wujud kesetiaan suami," kata Tarmizi, pemerhati sejarah Aceh.

***

Reza Idria, antropolog Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh, menuturkan bahwa Meugang awalnya hanya dijalankan oleh masyarakat Aceh di wilayah pantai timur, terutama Aceh Besar dan Pidie.

Pasalnya, bagi warga di sepanjang garis pantai itu, daging merupakan barang mewah. Sehari-hari, mereka lebih sering mengonsumsi hasil laut dan sungai. Kini tradisi itu meluas hingga ke pedalaman Aceh. Dataran tinggi Gayo, misal.

Menurut Reza, Meugang bermakna sebagai penanda pertemuan dengan keluarga dan bulan Ramadan. Misalnya, orang yang merantau bertemu dengan keluarga pada saat Meugang.

"Jadi Meugang ini perayaan atas perjumpaan dengan bulan Ramadan dan keluarga. Guna merayakan dipilihlah menu (daging) istimewa," kata Reza, Kamis (9/5/2019).

Adapun kemampuan membawa pulang daging Meugang ke rumah juga jadi tolok ukur hasil kerja keras seseorang selama setahun. Pun meski harga daging Meugang mahal, ujar Reza, tapi warga tak mempersoalkan.

"Meugang itu persoalan harga diri bukan harga daging. Apalagi bagi penganti baru itu seperti kewajiban," tutur dia. "Tetapi kini, bisa dibayar dengan uang. Kalau dulu orang menyebut 'Daging Meugang', sekarang 'Uang Meugang’," kata Reza.

Fenomena uang Meugang mulai meluas pasca-tsunami melanda Aceh pada pengujung 2004. Usai bencana, orang Aceh lebih terbiasa dengan pemberian uang.

Reza bilang kelonggaran itu menyisakan cela. Belakangan muncul orang-orang yang memanfaatkan Meugang untuk meminta uang kepada pejabat. Tak heran bila para pejabat pilih menghilang atau keluar dari Aceh jelang Meugang.

Konon Meugang juga bisa jadi ajang politik uang bagi politisi. Bahkan tradisi itu bisa menyelip dalam kasus korupsi. Perkara terakhir, paling tidak terdengar dalam kesaksian Direktur PT Kenpura Alam Nangro, Dedi Mulyadi.

Dedi bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, dalam kasus rasuah yang melibatkan mantan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, serta dua terdakwa lain, Teuku Saiful Bahri serta Hendri Yuzal.

Dedi mengaku pernah kasih uang Rp1 miliar kepada Saiful, orang dekat Irwandi. "Saya minta Saiful, supaya dimenangkan perusahaan saya. Beliau (Saiful) bilang ini lebaran, mungkin ada kebutuhan uang Meugang," demikian kesaksian Dedi, Senin (11/2/2019).

Tentang citra Meugang yang ternoda itu, Reza pun lempar keluh, "Kebudayaan Meugang sudah berubah."[]

BERITAGAR.ID, 2019

Menapaki karier jurnalistik sejak Desember 2015 di Acehkita.com. Sekarang bekerja sebagai jurnalis lepas, sambil merampungkan studi di FISIP Universitas Syiah Kuala.

Posting Komentar