Ganja Aceh: Ladang, Selundup, dan Bumi Hangus

Foto: Habil Razali

Ribuan pohon ganja berderet-deret lurus. Daunnya melambai dibelai angin. Tingginya antara 50-200 sentimeter. Usianya masuk bulan ketiga. Sebulan lagi panen. Pagar plastik setinggi setengah meter mengelilingi pepohonan Cannabis itu. Di luar pagar, hutan lebat jadi benteng alami.

Ladang seluas tiga hektare itu tersembunyi di balik rimba pegunungan Gampong Cot Sibatee, Kecamatan Montasik, Aceh Besar, Provinsi Aceh. Dari Banda Aceh, butuh waktu tiga jam ke sana. Dua jam pakai kendaraan. Sisanya jalan kaki, naik turun bukit, lewat semak belukar, dan menyeberangi sungai-sungai kecil.

Kamis, 14 Maret 2019, ladang ilegal itu ditemukan tim gabungan dari Polres Aceh Besar, Kodim 0101/BS, dan TNI AU Lanud Sultan Iskandar Muda. Polisi bilang lokasi ladang terdeteksi lewat "informasi masyarakat". Namun operasi telanjur bocor. Aparat gagal meringkus petani atau pemilik lahan. Mereka hanya bisa membakar ribuan pohon ganja.

Sepekan sebelumnya, 6 Maret 2019, tim gabungan juga membumihanguskan satu hektare lahan ganja di pegunungan yang sama. Mengacu data Polda Aceh, pada Januari-Maret 2019, ada sekitar 22 hektare lahan dan 80 ribu pohon ganja diberangus.

Perangkaan kepolisian juga menunjukkan penurunan luas pemusnahan lahan ganja sejak 2016. Situasi berbeda terjadi pada jumlah pohon. Trennya: lahan menyempit tapi pohon kian banyak. Misal, pada 2017, bumi hangus lahan mencapai 103,5 hektare, dengan jumlah pohon sekitar 484 ribu. Pada 2018, pemusnahan lahan turun jadi 71,5 hektare, tetapi jumlah pohon meningkat hingga 511 ribu.

***

Bibit ganja memang berjodoh dengan tanah Aceh. Sedari dulu, provinsi paling barat itu beken sebagai daerah budi daya mariyuana ilegal di Indonesia. Dan bila harus menyebut beberapa lokasi ladang ganja di Aceh, Lamteuba ada di daftar teratas. Pasalnya, mayoritas gele yang disita kepolisian Aceh berasal dari sana.

Secara administratif, Mukim Lamteuba punya delapan gampong (desa), dan masuk wilayah Kecamatan Seulimeum, Aceh Besar. Jaraknya sekitar 50 kilometer dari Banda Aceh. Sabtu, 23 Maret 2019, Beritagar.id menyambangi mukim di kaki Gunung Seulawah Agam itu.

Kami punya janji berjumpa Fauzan, warga Gampong Lambada, Lamteuba. Pria berusia 30 itu merupakan mantan petani ganja. Fauzan punya gaya bicara yang cepat, seirama dengan gerak-geriknya nan lekas.

Saat jumpa, tanpa banyak basa-basi, dia tuntun kami menuju area bekas ladang ganja di pegunungan Blang Nibong. Dari Lamteuba, perjalanan ditempuh selama lebih kurang 30 menit pakai motor. Jalurnya menanjak dan penuh kerikil.

Pada 1 April 2016, Blang Nibong jadi lokasi pemusnahan ladang ganja yang dipimpin Kapolri Badrodin Haiti. Seremoni itu jadi penanda bumi hangus 189 hektare kebun gele di 23 lokasi--kabupaten Aceh Besar, Gayo Lues, dan Nagan Raya.

Kini ladang ganja di Blang Nibong berganti kebun palawija. Area seluas 96 hektare itu digarap oleh Fauzan dan 100 warga Lamteuba lainnya, yang tergabung dalam kelompok tani Oisca. "Sekitar 80 persen anggotanya mantan petani ganja," ujar Fauzan.

Fauzan jadi petani ganja pada 2002-2004, kala masih berstatus pelajar SMA. Mula-mula, dia dan sejumlah temannya menanam ganja seluas dua hektare. Penanaman ganja memang lazim dilakukan per kelompok (2-5 orang). Biasanya, bandar atau tauke kasih modal kepada petani guna buka lahan. Paling sedikit Rp5 juta. "Sebenarnya, kami berutang. Nanti dihitung usai panen," kata Fauzan.

Konon ada dua model tanam ganja, yakni: tanam liar dan perawatan intensif. Keduanya butuh proses pembersihan lahan dan penyemaian biji. Saat pohon tumbuh sekitar 10 sentimeter, barulah ditanam berderet-deret lurus. Setelahnya, petani ganja liar akan membiarkan tanamannya tumbuh sendiri. Mereka baru mengunjungi lahan saat panen. Pada model perawatan intensif, petani menyambangi ladang secara berkala guna menyiram dan memupuk.

"Biasanya yang berhasil orang yang tanam liar," ujar Fauzan.

Fauzan (kiri) dan Yahwa. Foto: Oviyandi/Beritagar.id

Saat berladang ganja, Fauzan tak terlampau risau dengan kemungkinan penggerebekan. Kabar perihal operasi polisi acap kali bocor ke petani. "Pokoknya kami dengar. Jadi ganja kami aman sampai panen," ujarnya. Adapun usia panen ganja antara empat hingga enam bulan. Pada fase itu, sejumlah orang akan dikerahkan guna memetik, menggunting bagian bunga, dan menjemur.

Tiap satu hektare ladang bisa menghasilkan dua ton cimeng kering. "Setelah kering, kita pres per paket--biasanya sekilo. Semua dilakukan di ladang. Jadi tauke tinggal jual," kata Fauzan.

Paketan ganja lantas pindah tangan ke bandar. Menariknya, petani dan bandar tak pernah tatap muka. Paket hanya diletakkan di satu tempat yang sudah disepakati. Bandar akan mengambilnya. Uang dikirim beberapa hari usai ganja terjual oleh bandar. Namun model itu menyisakan celah bagi bandar untuk menipu petani. Fauzan bilang, "Ada tauke yang mengaku paket kedapatan polisi. Ada yang hilang setelah ambil barang. Ditelepon, nomornya tidak aktif."

Menurut Fauzan, bandar selalu untung dalam bisnis ganja. Petani sekadar dapat janji manis. Misal, kala masa tanam, petani dijanjikan harga Rp700 ribu per kilogram. Kenyataannya, saat panen, nilai anjlok jadi Rp50 ribu per kilogram. Fauzan pun berhenti setelah beberapa kali kena tipu. "Sekarang petani ganja berkurang. Dulu, ibaratnya, seluruh Indonesia ada orang Lamteuba di setiap penjara. Sekarang, banyak yang beralih ke tanaman jagung dan kedelai," katanya.

***

Namanya Darwin Budiman. Lebih karib disapa Yahwa. Usianya 60 tahun. Dia legenda hidup di balik kesohornya ganja Lamteuba. Merujuk cerita warga, Yahwa merupakan orang pertama yang membawa biji ganja ke Lamteuba. Tak sekadar bertani, dia sering pula meloloskan mariyuana ke Pulau Jawa. Puluhan tahun terlibat bisnis gelap, Yahwa insaf setelah dibekuk polisi dan dipenjara.

Beritagar.id berbincang dengannya di area perkebunan Blang Nibong, Lamteuba. Yahwa pun memutar ingatan pada 1987, muasal persentuhannya dengan bisnis hitam. Saat itu, dia gelisah melihat warga Lamteuba kehilangan barang dan hewan peliharaan. Konon ada warga yang jadi pencuri karena situasi serba susah. Orang Lamteuba memang bersandar pada pertanian. Namun, pada masa itu, mereka kerap gagal panen.

Yahwa putar otak. Dia ajak kawan-kawannya tanam ganja. Biji ganja diambilnya dari seorang kenalan di Pegunungan Montasik, yang hanya bersebelahan gunung dan hutan dengan Lamteuba. "Saya tidak mengajarkan cara tanam. Karena prosesnya sama seperti merawat cabai, yang sering ditanam warga Lamteuba," ujarnya. Setelah beberapa kali panen, warga mulai menikmati untung. "Ternyata berhasil. Orang tidak lagi mencuri karena sibuk dengan ladang ganja," kenang Yahwa.

Bila panen tiba, Yahwa jadi perantara petani dengan bandar. Kadang, dia sendiri bawa ganja ke luar Aceh. Pulau Jawa, terkhusus Jakarta, jadi tujuan utama. Dalam aksinya, Yahwa bersekongkol dengan sopir bus yang bersedia menyediakan tempat khusus guna menyembunyikan ganja. Usai beberapa kali menyelundupkan daun surga, dia beroleh untung yang dipakainya membeli mobil boks. Pembelian itu demi melancarkan bisnis gelapnya.

Pertama kali menyelinapkan ganja dengan mobil boks, Yahwa berhasil mengecoh polisi. Nahas menimpanya pada percobaan kedua. Medio 2000, Yahwa dan seorang rekannya ditangkap saat hendak menyeberang ke Jawa. Saat itu, polisi gelar pemeriksaan di Pelabuhan Bakauheni, Lampung. "Teman saya ketakutan. Dia keluar mobil dan lari. Jadilah kami ditangkap," katanya.

Padahal kedoknya nyaris sempurna. Ganja disimpan di lantai mobil boks yang ditutupi pelat baja guna membentuk lantai baru. "Dalam boks ada sarang burung. Kita taruh burung juga," kenang Yahwa. Polisi berhasil menemukan 500 kilogram ganja kering dari mobil Yahwa. Dia divonis 17 tahun dan mendekam dalam penjara di Lampung.

Lantaran berlaku baik, Yahwa dapat remisi dan bebas pada pengujung 2005--menjalani hukuman 4,5 tahun. Setelah bebas, Yahwa balik kampung jadi petani palawija. "Saya menyesal telah memberi biji ganja ke warga Lamteuba," ujarnya.

***

Pegiat budaya Aceh, Azhari Aiyub, menyebut ganja tumbuh liar di Tanah Rencong sejak dulu. Kemungkinan sudah berbilang abad. Laiknya tumbuhan liar lain, ganja dianggap perkara biasa. Saking lazimnnya, tiada kata "ganja" dalam manuskrip kuno Aceh. "Ke mana pun orang pergi pasti ada. Yang perlu tinggal ambil. Dulu orang juga tak sengaja menanam. Makanya untuk apa ditulis," kata Azhari, di Banda Aceh, Minggu, 24 Maret 2019.

Sejumlah penelitian menyimpulkan bahwa Asia Tengah jadi tempat ganja mula-mula tumbuh. Beberapa yang lain turut menyertakan Asia Selatan sebagai muasalnya. Hingga kini, ucap Azhari, belum ada riset mendalam soal asal-usul ganja di Aceh. Meski begitu, ada dua kemungkinan skenario: dibawa manusia atau disebarkan burung.

Azhari meyakini skenario terakhir. Baginya, penyebaran ganja di hutan-hutan Aceh mengindikasikan penyebarannya dilakukan oleh burung. Biji-biji itulah yang tumbuh sebagai tanaman liar. Konon, pada masa lampau, Orang Aceh jarang menggunakan ganja dengan cara dihisap kayak rokok. "Orang Aceh sering pakai candu, bukan ganja," ujar Direktur Tikar Pandan, satu komunitas seni dan budaya Aceh itu.

Ganja sering pula dipakai sebagai bumbu dapur. Batang dan akarnya juga bermanfaat sebagai obat. Misal, saat Aceh dilanda perang, ganja jadi obat luka dan bius. Betapa pun ganja berkhasiat dan lazim di Aceh, penggunaannya jadi sembunyi-sembunyi sejak pemberlakuan UU No. 9/1976 tentang Narkotika. Kini, ganja masuk Golongan I dalam beleid Narkotika teranyar (UU No.35/2009). Penggolongan itu menegaskan pelarangan ganja di Indonesia, sekalipun untuk kepentingan kesehatan.[]

Naskah ini pertama tayang di Beritagar.id.
Menapaki karier jurnalistik sejak Desember 2015 di Acehkita.com. Sekarang bekerja sebagai jurnalis lepas, sambil merampungkan studi di FISIP Universitas Syiah Kuala.

1 komentar

  1. keren sekali tulisannya