Kisah Para Penjaga Leuser

Kami mengikuti turne ranger menjelajah rimbun hutan Leuser. Mendengar cerita para penjaga hutan dan satwa itu.

Hendra Saputra tiba-tiba berhenti. Empat rekannya ikut menahan langkah. Mata mereka tertuju pada seutas kawat seling yang terkait pada sebatang kayu kecil di atas tanah. Panjang kawat lebih dari dua meter. Menjulur dari batang kayu kecil ke tanah. Di atas tanah, kawat terjalin membentuk lingkaran berdiameter lebih kurang 30 sentimeter.


Itu merupakan jerat satwa. Bila ada yang masuk lingkaran, kawat otomatis terlepas dari pengait, pola lingkaran mengecil, dan kaki satwa bakal terkunci.

Tak butuh waktu lama, Hendra dan empat rekannya membongkar jerat. Kayu pengait dipatahkan. Kawat digulung. "Ini jerat untuk satwa agak besar, seperti harimau dan rusa. Bahannya kawat seling. Ada juga jerat paku, biasanya untuk gajah," ujar Hendra.

Dalam perjalanan, rombongan Hendra kembali menemukan jerat. Kali ini lebih kecil dan berbahan nilon. Konon dipakai guna menjerat burung kuwau.

Rabu, 9 Januari 2019, saya turut bersama Hendra dan empat rekannya, menembus rimbun Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) di Subulussalam, Provinsi Aceh. Mereka adalah ranger, sebutan bagi para penjaga hutan Leuser, yang tergabung dalam Forum Konservasi Leuser (FKL).

Kami mulai turne dari Stasiun Riset Soraya, pintu masuk Leuser, sekitar 25 kilometer dari permukiman terakhir di Desa Gelombang, Kecamatan Sultan Daulat, Subulussalam. Sebelumnya, guna capai Stasiun Riset Soraya, kami menyusuri sungai. Menumpang perahu selama dua jam.

Satu sesi patroli makan waktu 15 hari. Perbekalan pun harus lengkap. Tiap ranger panggul ransel seberat 40 kilogram. Isinya alat masak, bahan makanan, tenda, peta, kompas, gps, dan lain-lain. Selama patroli, tim mencatat jejak dan kotoran satwa. Mereka juga mengecek kamera jebakan (camera trap). Alat pemantau satwa itu diperiksa sebulan sekali untuk tukar memori dan baterai.

Patroli juga bertujuan mencegah aktivitas ilegal. Tiap regu patroli didampingi polisi hutan. Keberadaan aparat memudahkan penindakan bila ada pembalakan liar dan perburuan satwa. 

Leuser punya pamor sebagai rumah pelbagai jenis satwa langka, seperti gajah, orangutan, badak, dan harimau sumatera. Hal itu membuatnya jadi sasaran pemburu satwa. Merujuk data FKL, ada 5.350 jerat ditemukan sepanjang 2013-2018—mulai dari jerat gajah, harimau, hingga burung.

Adapun Kawasan Ekosistem Leuser disahkan pada 1995 lewat keputusan Menteri Kehutanan No.227/Kpts-11/1995. Lalu dikuatkan dengan dengan Keppres No. 33/1998. Total area itu punya luas 2,6 juta hektare. Sekitar 2,25 juta hektare di Provinsi Aceh dan sisanya masuk area Sumatera Utara.

Di Aceh, Leuser membentang di 13 kabupaten: Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Subulussalam, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang.

***

Hendra Saputra, 36 tahun, jadi pemimpin dalam patroli ranger yang saya ikuti. Dia paham seluk beluk hutan. Ritme jalannya yang lekas, bikin saya kepayahan mengekor. Sejak muda, Hendra sudah karib dengan hutan. Dulu dia angkat senapan, kini sekadar panggul ransel.

Maklum, semasa konflik di Aceh, dia ikut Gerakan Aceh Merdeka (GAM)--sempat menjabat Panglima Operasi GAM Wilayah 3 Aceh Tenggara. Hendra mengenal aktivitas ranger saat jadi kombatan GAM. Waktu itu, dia menahan kelompok ranger yang tengah patroli.

"Saat menelusuri hutan, kami jumpa satu kelompok. Kami tahan, dan mereka mengaku sebagai ranger," kata Hendra. "Saya enggak tahu itu ranger. Saya tanya pimpinannya. Dia bilang ranger tidak punya tujuan lain, selain menjaga Leuser dan satwa."

Hendra akhirnya melepaskan kelompok itu. Dia tak menyangka kelak akan menyandang status yang sama dengan mereka.

Alkisah, selepas perdamaian pemerintah Indonesia dan GAM, Hendra turun gunung. Namun hanya dua tahun. Dia tak kerasan berdiam di perkampungan. Bapak tiga anak itu balik ke gunung setelah dapat tawaran menjadi ranger dari Yayasan Leuser Internasional (YLI). "Hutan ini rumah saya. Dengan jadi ranger, saya bisa jaga rumah, jaga hutan, dan jaga satwa," katanya.

Selain dari Hendra, selama perjalanan, saya dengar cerita dari ranger lain. Satu cerita membekas datang dari Dahlawi. Pria berusia 50 itu sudah jadi ranger sejak 1998. Ia mengaku sering kejar-kejaran dengan pemburu satwa hingga pelaku pembalakan liar.

Namun, bagi Dahlawi, pengalaman paling pahit terjadi pada medio 2012. Cek Tamrin, ranger yang dianggapnya sebagai guru, meninggal di pangkuannya. Saat itu, Dahlawi dan Tamrin berpatroli dalam satu tim. Pada hari kelima, mereka masuk area hutan Bengkung, Subulussalam. Siangnya, Tamrin sesak nafas.

Tim lantas bangun tenda guna istirahat. Tak disangka, kesehatan Tamrin memburuk, hingga harus mengembuskan nafas terakhir pada malamnya.

Malam itu pula Dahlawi bagi tugas. Ia minta tiga rekannya jaga jenazah Tamrin. Sedang dirinya menuju perkampungan terdekat guna mencari bantuan. Dalam situasi normal, perjalanan Hutan Bengkung menuju perkampungan warga--terdekat dari Stasiun Riset Soraya--bisa makan waktu 3-4 hari. Namun, entah kekuatan dari mana, Dahlawi berlari dan menembus perkampungan kurang dari 20 jam.

Jenazah Tamrin akhirnya dievakuasi dengan bantuan warga, terhitung empat hari setelah wafat. Di balik pengalaman pahit itu, Dahlawi mengaku bangga jadi ranger. Paling tidak, kata dia, patroli mereka punya dampak buat Leuser. "Dulu sering bertemu pemburu, pelaku ilegal logging, tapi sekarang mulai berkurang. Karena patroli makin sering," ujarnya.
Hendra (kiri) dan Dahlawi. Foto: Habil Razali

***

Selepas menjelajah hutan, saya mengobrol dengan Rudi Putra dan Dedi Yansyah. Keduanya merupakan tokoh Forum Konservasi Leuser (FKL). Mereka berbagi riwayat ranger. Konon istilah ranger hadir di Leuser sejak 1975. Mula-mula, istilah tersebut merujuk pada sekelompok orang yang menjadi asisten bagi Nico Van Strein.

Konservasionis asal Belanda itu meneliti badak di Aceh Tenggara. Dalam risetnya, Nico merekrut beberapa orang kampung sebagai asisten. Mereka bertugas mengumpulkan data penelitian dan bersih-bersih jerat.nNamun, pada 1985, riset Nico selesai. Aktivitas ranger berhenti. Lantaran tiada patroli, perburuan jadi marak.

Medio 1990, Mike Rivett masuk Leuser. Dia punya minat serupa Nico, meneliti populasi badak yang menyusut. Sebelumnya, riset Nico menyebut ada 39 individu per satu titik lokasi. Sedangkan Mike mendapati angkanya turun jadi 20 individu.

Mike menghidupkan ulang patroli ranger guna memerangi perburuan. Pada 1993, dia mendirikan Leuser Development Program (LDP). Organisasi non-pemerintah itulah yang secara formal merekrut warga sekitar Leuser sebagai ranger. Sejak 2004, program LDP selesai. Para ranger beralih payung ke Yayasan Leuser Internasional (YLI), organisasi non-pemerintah lain dengan misi serupa.

Babak baru bagi ranger dimulai pada 2005, beriring perdamaian pemerintah Indonesia dan GAM. Sejak itu, banyak eks-GAM jadi ranger. Lebih-lebih, pada 2007, Pemerintah Aceh membentuk Badan Pengelolaan Kawasan Ekosistem Leuser (BPKEL). Sebagian ranger YLI pindah masuk ke BPKEL. Saat itu, jabatan Gubernur dipegang Irwandi Yusuf.

Namun peralihan kursi gubernur ke Zaini Abdullah, malah bikin BPKEL dibubarkan pada November 2012. Nasib ranger terombang-ambing. Mereka kehilangan kerja. Padahal asa menjaga Leuser masih membara. Akan tetapi niat baik tak cukup. Butuh komitmen pula dari pemerintah.

Saat itu, Rudi Putra merupakan salah seorang bekas staf BPKEL. Dia berinisiatif bikin Forum Karyawan BPKEL sebagai medium bagi para ranger bersilaturahmi dan memikirkan nasib bersama. Para bekas staf BPKEL juga berusaha menghidupkan patroli, meski tanpa sokongan alat dan upah.

Pada 2013, Forum Karyawan BPKEL berubah jadi Forum Konservasi Leuser (FKL). Lembaga itulah yang membuat kesepakatan baru dengan Dinas Kehutanan Aceh

"Setelah FKL berdiri, kami ajak lagi ranger yang dulu aktif. Kami juga mulai dapat pendanaan dari donor. Sekarang tiap ranger diupah sesuai standar minimum di Aceh--sekitar Rp2,9 juta," ujar Rudi Putra, yang kini menjabat Direktur FKL.

Kini ada 26 tim patroli yang berada di bawah naungan FKL. Tiap tim beranggotakan lima ranger. Mereka tersebar dalam beberapa titik di Leuser.

Koordinator Ranger FKL, Dedi Yansyah, menyebut perekrutan ranger memprioritaskan masyarakat sekitar Leuser. Selain kombatan GAM, kata Dedi, ada pula ranger yang sebelumnya punya pekerjaan kelam, macam pemburu satwa dan pelaku pembalakan liar.

"Mereka menguasai area. Asal punya komitmen menjaga Leuser, keberadaan mereka sangat berguna," katanya.[]

BERITAGAR.ID, 2019
Menapaki karier jurnalistik sejak Desember 2015 di Acehkita.com. Sekarang bekerja sebagai jurnalis lepas, sambil merampungkan studi di FISIP Universitas Syiah Kuala.

Posting Komentar