Tukang Becak Terjepit Harga Minyak

Kenaikan harga bahan bakar minyak menjepit tukang becak di tengah penumpang yang kian sepi.

Adi Saputra duduk mengaso di kursi penumpang becak motornya yang parkir di pinggir jalan sisi kanan Masjid Raya Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Dahan pohon nan rimbun melindungi kendaraan roda tiga itu dari sengatan sinar matahari.

Meski salat Zuhur berjemaah telah usai digelar di masjid ikon Banda Aceh, Adi belum dapat seorang pun penumpang pada Senin (12/9) siang itu. Padahal ia mangkal di kawasan itu sejak pagi.

Bila sepi penumpang seperti itu, pria 38 tahun ini biasanya keliling ke kawasan Ulee Lheue hingga Peunayong. Namun, sekarang ia urung mencari penyewa. "Tidak mau keliling lagi karena tidak cukup minyak. Sudah mahal," kata Adi.

Sejak harga bahan bakar minyak (BBM) naik pekan lalu, Adi mulai irit dan hitung-hitungan pengeluaran. Jika memaksa tetap rutin keliling seperti dulu, biaya beli minyak jadi lebih besar dibanding duit yang ia peroleh.

"Dulu isi sepuluh ribu rupiah lebih dari seliter, sekarang cuma seliter. Sekali isi minyak sepuluh ribu, lebih dari itu tidak cukup uang," ujarnya.

Minyak yang dipakai Adi jenis pertalite. Pemerintah menaikkan harganya bersama dengan solar dan pertamax sejak 3 September lalu. Semula Rp 7.650 per liter, pertalite kini jadi Rp 10 ribu. Adapun solar Rp 6.800 per liter dari Rp 5.150 per liter dan pertamax Rp 14.500 per liter dari Rp 12.500 per liter.

Sepekan ini Adi memilih mengetem saja di dekat halte Trans Kutaraja. Ia menanti penumpang turun bus. Tapi hingga siang itu belum ada yang membutuhkan jasa becak Adi.

Kendati harga BBM meroket, tarif sewa becak di Banda Aceh belum berubah. Kisaran biayanya masih tetap seperti dulu antara Rp 10-50 ribu. Ongkos kerap kali berubah saat ditawar penumpang. "Daripada nihil penumpang, kami ambil saja walaupun ditawar-tawar," tutur Adi.

Dari pagi hingga sore, Adi sepekan ini dapat uang Rp 20-30 ribu. Jumlah ini turun drastis dari sebelumnya Rp 70-100 ribu. Sebabnya, kini ia tidak keliling mencari penumpang. Duit segitu ia pakai untuk nafkah istri dan dua anaknya berusia 9 dan 3 tahun.

"Turunkan saja harga BBM, kasihan kami masyarakat. Susah," keluh Adi.

Pemerintah Jangan Semena-mena

Becak motor Rusdi dalam sepekan ini juga kerap mangkal di Jalan Prof Majid Ibrahim, Pasar Aceh, Banda Aceh. Pria 50 tahun itu enggan keliling mencari penumpang karena ingin irit BBM.

"Sekarang kondisinya berat sekali, di sini saja menunggu penyewa," kata Rusdi.

Ekonomi Rusdi morat-marit sejak harga BBM naik. Kondisi serupa juga kerap ia dengar dari masyarakat dan pedagang di pasar. "Kami rakyat tidak punya panggung menyuarakan pendapat. Pemerintah jangan semena-mena menaikkan harga BBM."

Dengan pengeluaran untuk BBM Rp 20 ribu per hari, Rusdi hanya dapat uang dari penumpang Rp 40-50 ribu. Duit itu belum dipotong biaya makan minum saat rehat menanti penyewa.

Di ruas jalan sebelah kiri Masjid Raya Baiturrahman, Mustafa (63 tahun) duduk di becak motornya dan menolak berbicara panjang lebar. "Perut lapar, kalau ngomong tidak nyambung. Belum ada sewa. Apa ada bantuan?"[]

ACEHKINI, 2022
Menapaki karier jurnalistik sejak Desember 2015 di Acehkita.com. Sekarang bekerja sebagai jurnalis lepas, sambil merampungkan studi di FISIP Universitas Syiah Kuala.

Posting Komentar